Wys tans plasings met die etiket Artikel. Wys alle plasings
Wys tans plasings met die etiket Artikel. Wys alle plasings

Donderdag 04 Julie 2013

Hakikat Ibadah Haji



Oleh : Didin Hafidhuddin

) ليشهدوا منفع لهم ويذكروا اسم الله فىأيّامٍ معلومت على مارزقهم من بهيمة الأنعام فكلوا منها وأطعموا البآئس          الفقير (28).{الحجّ :27-28}.

          Salah satu tugas dan kewajiban para jama'ah haji didalam melaksanakan kewajiban hajinya, adalah memahami dan menghayati berbagai hikmah dan manfaat yang terdapat didalamnya. Semakin tinggi penghayatannya, maka akan semakin besar dampak positif yang diakibatkannya, baik untuk dirinya maupun untuk ummat secara keseluruhan. Sebaliknya, jika penghayatan ini tidak ada sama sekali, maka yang terjadi hanyalah sekedar pemenuhan pelaksanaan rukun Islam.
Diantara hikmah-hikmah tersebut antara lain adalah :
1.    Penyadaran kembali akan hakekat diri manusia sebagai hamba Allah yang dlaif dan lemah, yang memiliki ketergantungan yang tinggi kepada-Nya, dan sekaligus sebagai makhluk ijtimaiyyah (sosial) yang selalu terikat kepada sesamanya. Seluruh segmen ibadah haji selalu mengandung dua hal ini, seperti thawaf mengelilingi ka`bah, sai` antara shafa dan marwah, wukuf di padang Arafah, dan sebagainya.
2.    Menumbuhkan keikhlasan dalam bertauhid, bahwa hanya kepada-Nya kita beribadah dan hanya kepada-Nya pula kita memohon pertolongan. Kalimat talbiyah yang diucapkan oleh para jama'ah haji ketika mengawali ibadah haji, merupakan cerminan ketauhidan yang tulus.
لَـبـَّيـك اللهمَّ لَـبـَّيـك لَـبـَّيـكَ لاشـرِيـْكَ لَـكَ لَـبـَّيـك إِنَّ الْـحَمْدَ والـنِّـعْـمَةَ لَـكَ والْـمُلْك لاَشَـريْـكَ لَـكَ.

3.    Pakaian ihram sebagai “pakaian resmi”  jama'ah haji sesungguhnya menyadarkan para jama'ah bahwa nilai ketakwaan manusia dihadapan Allah bukan ditentukan oleh penampilan luar, akan tetapi oleh hati dan perilakunya. Seluruh manusia pada akhirnya akan kembali pada Rabb-nya dengan memakai dua helai kain yang sangat sederhana. Penanggalan pakaian keseharian pun mencerminkan bahwa didalam kehidupan ini, pakaian-pakaian keseharian sering menimbulkan keangkuhan dan kesombongan, baik berupa pakaian jabatan, kesukuan, harta benda, dan pakaian-pakaian lainnya.
4.    Seluruh segmen ibadah haji mencerminkan dinamika dan etos kerja yang tinggi, yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain secara kontinyu, dan dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Hal ini mencerminkan bahwa yang menjadi ciri utama kaum muslimin, dan terutama para jama'ah hajinya, adalah mereka yang hidupnya penuh dengan dinamika dan senantiasa berbuat yang terbaik bagi umat dan bangsanya      (Q.S. 94 : 5-8).
فإنّ مع العسر يسرا إنّ مع العسر يسرا فإذا فرغت فانصب وإلى ربّك فارغب.{الشّرح :5-8}.
Berbagai tantangan dan godaan, terutama godaan syaithon, akan dapat dilaluinya. Dan dalam menghadapi godaan syaithon tersebut diperlukan kekuatan, sebagaimana tercermin dalam  jumrah di Mina.
5.    Menumbuhkan kesadaran Ukhuwwah Islamiyyah. Kaum muslimin disadarkan bahwa walaupun mereka memiliki perbedaan, baik perbedaan warna kulit, suku, bangsa, bahasa, dan adat istiadat, mereka tetap terikat dalam satu kesatuan akidah dan ibadah. Para jama'ah haji pada hakekatnya adalah duta-duta pemersatu ummat.
Berbagai hikmah dan pelajaran tersebut, sesungguhnya menghantarkan kesadaran transedental dan kesadaran sosial para jama'ah haji kearah yang lebih tajam dan lebih kuat, sehingga akan melahirkan sebuah gerakan kolektif secara berkesinambungan dari tahun ke tahun. Sebuah gerakan moral dan sosial yang akan berdampak pada bidang-bidang lainnya.

A.   Upaya-upaya Perbaikan

          Gerakan moral dan sosial tersebut seyogyanya teraplikasikan dengan baik ketika para jama'ah haji kembali ke tanah air. Karena hakekat kemabruran haji itu, disamping pelaksanaan ibadah hajinya yang tepat dan sesuai dengan syariat Islam, juga sangat ditentukan oleh perilaku sesudahnya. Imam Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa yang dimaksud dengan haji mabrur itu adalah perubahan perilaku kearah yang lebih baik dan para jama'ah haji tersebut mampu menjadi panutan lingkungan masyarakatnya. Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ciri haji mabrur itu adalah kesediaan memberikan harta kepada yang membutuhkan, dan semakin memiliki kemampuan untuk mengendalikan segala ucapan dan tindakan (Fiqh Sunnah, V : 21).
          Untuk merealisasikan hal-hal di atas, perlu dilakukan berbagai upaya perbaikan dan pembenahan, baik saat persiapan sebelum haji, ketika pelaksanaan ibadah haji itu sendiri, maupun pasca ibadah haji. Upaya-upaya sebelum haji, disamping mempersiapkan hal-hal yang terkait dengan ibadah dan persiapan teknis operasional, juga dengan memberikan penjelasan-penjelasan makna ibadah haji secara komprehensif, meluas dan mendalam, sehingga melahirkan komitmen dan kesungguhan untuk melaksanakannya. Persiapan yang semacam inilah yang diistilahkan Al-Quran sebagai bekal takwa         (Q.S. 2 : 197).
الحجّ أشهر معلومت فمن فرض فيهنّ  الحج فلارفث ولافسوق ولاجدال فىالحجّ وما تفعلوا من خير يعلمه الله وتزّودوا فإنّ خير الزّاد التّقوى واتّقون ياأولى الالباب. {البقرة :197}.

Sementara itu, ketika pelaksanaan haji, bimbingan haji secara terus menerus dari para pembimbing ibadah yang memiliki dedikasi yang tinggi, sangat dibutuhkan oleh para jama'ah. Bimbingan tersebut bukan hanya berorientasi pada pelaksanaan ibadah semata, tetapi hendaknya berorientasi pula pada hubungan kemanusiaan antar sesama jama'ah. Sehingga diharapkan akan menghilangkan sifat-sifat egoistik para jama'ah, dan menumbuhkan semangat kebersamaan atas dasar tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.
Dan ketika kembali ke tanah air, perlu ada usaha-usaha yang kongkrit secara bersama-sama untuk mempertahankan kemabruran, sekaligus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dan bangsa. Kiranya potensi besar yang dimiliki umat ini bisa dioptimalkan secara lebih baik bagi kemaslahatan umat. 

Inovatif Dan Kreatif

Oleh: Didin Hafidhuddin


1.      Salah satu bagian penting dari fathanah (cerdas) adalah inovatif dan kreatif, sebagaimana  ditunjukkan oleh Rasulullah Saw., bahkan sebelum menjadi Nabi. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Siti Khadijah R.A.
وَاللهِ مَايُخْزِيْكَ اللهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُوْمَ وَتَقْرِى الضَّيْفَ وَتُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ.
“Demi Allah, Allah SWT tidak akan pernah menghinakan engkau, karena engkau memiliki perilaku-perilaku:
  1. Selalu bersilaturrahmi (membuat jaringan).
  2. Terbiasa memikul beban berat.
  3. Menciptakan hal-hal baru yang asalnya tidak ada (kreatif dan inovatif).
  4. Menghormati tamu.
  5. Menolong orang yang membela kebenaran.

DASAR – DASAR EKONOMI ISLAM (Ekonomi Syari’ah)

Oleh : Didin Hafidhuddin  

A.   Konsep Ekonomi Islam (Syari’ah)

Pakar ekonomi seperti Fritjop Capara dalam bukunya, The Turning Point, Science, Society and The Rising Culture (terj. 1999) dan Ervin Laszio dalam 3rd Milinium, Tehe Challenge and The Vision (terj. 1999) banyak mengungkapkan kekeliruan sejumlah premis ilmu ekonomi, terutama rasionalitas ekonomi yang telah mengabaikan sama sekali nilai-nilai dan moralitas. Menurut mereka, kelemahan dan kekeliruan itulah yang antara lain menyebabkan ilmu ekonomi tidak berhasil menciptakan keadilan ekonomi dan kesejahteraan bagi ummat manusia. Yang terjadi justru sebaliknya, ketimpangan yang semakin tajam antara negara-negara dan masyarakat miskin dengan negara-negara dan masyarakat kaya. Lebih lanjut mereka menegaskan bahwa untuk memperbaiki keadaan ini, tidak ada jalan lain, kecuali mengubah paradigma dan visi yaitu melakukan satu titik balik peradaban (M. Yasir Nasution, 2002), dalam arti membangun dan mengembangkan sistem ekonomi yang memiliki nilai dan norma yang bisa dipertanggungjawabkan.

Vrydag 03 Mei 2013

Sekolah Kristen Dan Kolonialisme

Sejarah menunjukkan bahwa Kristenisasi merupakan bagian tidak terpisahkan dari ekspansi kolonialisme. Agama Kristen datang dan menyebar di negeri kita seiring dengan datang dan menyebarnya kolonialisme Barat. Portugis maupun Belanda sama-sama datang dengan membawa misi Kristen. Di dalam Encyclopædie van Nederlandsch-Indië Jilid IV (Leiden: Martinus Nijhoff, 1905), hlm. 829 disebutkan, “Mengenai sikapnya terhadap perkara agama di kepulauan ini (Nusantara), orang Belanda berdasarkan contoh sama dengan orang Portugis. Di mana pun dia tinggal dan menjumpai pribumi Kristen, keadaan mereka itu tidak disia-siakannya. Sebaliknya, di mana pun belum ada pribumi Kristen, dia berusaha menyebarkan Kristen di tengah-tengah mereka.”

Woensdag 10 April 2013

Respon Muhamdiyah Terhadap Sekolah Kristen


Oleh: Ustad Isa Anshori, M.P.I.

Berdirinya Muhammadiyah pada 1912 di Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari konteks zamannya. Salah satu faktor yang melatarbelakangi pendirian organisasi ini adalah adanya penetrasi misi Kristen yang berkembang pesat pada masa politik etis. Hal ini berawal ketika para penguasa keraton Yogyakarta, atas desakan pemerintah kolonial Belanda, menyetujui pencabutan larangan penginjilan terhadap masyarakat Jawa. Sejak saat itu, Jawa, wilayah konsentrasi kebanyakan kaum Muslim, terbuka bagi kegiatan misionaris Kristen. Penetrasi Kristen yang lebih dalam lagi terjadi mulai 1850-an ke wilayah Jawa Tengah, yang menjadi dorongan kuat bagi lahirnya pendalaman kesadaran kaum Muslim untuk melawan kegiatan-kegiatan misi ini.
            Menghadapi tantangan demikian, Muhammadiyah giat melakukan tabligh, merapikan dan mempermodern caranya. K.H. Ahmad Dahlan, pendiri organisasi ini, bahkan sering mengadakan diskusi-diskusi dengan pastur dan pendeta. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kebenaran Islam dan kemampuan umatnya dalam mempertahankan agamanya. Selama masa Ahmad Dahlan, Muhammadiyah menghindari konfrontasi langsung dengan misi Kristen.

Saterdag 30 Maart 2013

Jihad Trunajaya




Oleh: Ustad Isa Anshori, M.P.I.

 “Tidak pantas jika Baginda sebagai Raja bergaul dengan orang-orang Kristen (Belanda). Para pembesar yang mengabdi kepada Baginda akan merasa hina melihat yang demikian itu. Orang Jawa nanti akan memeluk agama Kristen. Dengan keadaan ini, Baginda sebagai Raja tidak dapat menjalankan pemerintahan karena kewibawaan Baginda di mata rakyat akan turun… Leluhur Baginda tidak pernah bersekutu dengan orang-orang Kristen (Belanda). Pemerintahan tidak dicampuri oleh orang lain, tetapi dijalankan sendiri. Oleh karena mereka adalah benalu, bilamana bertempat di suatu pohon akhirnya ini akan kering.” Demikian nasihat Trunajaya kepada Amangkurat II dalam suratnya pada 1679, seperti yang dicantumkan dalam Daghregister 15 April 1680 hal. 174. 
Trunajaya adalah seorang bangsawan Madura yang melakukan pemberontakan terhadap Raja Mataram Amangkurat I, lalu Amangkurat II. Pemberontakan ini (1674–1680) semula adalah gerakan protes terhadap kezaliman Amangkurat I terhadap rakyat Mataram. Tanpa diduga, ia kemudian menjadi gerakan jihad melawan VOC Belanda.  

Islamisasi Nusantara Menurut Haji Agus Salim

 
Oleh: Ustad Isa Anshori, M.P.I.

Pada 1941 Haji Agus Salim menulis sebuah buku berjudul Riwayat Kedatangan Islam di Indonesia. Buku ini kemudian dicetak ulang pada 1962 dan diterbitkan oleh Tintamas Jakarta. Meskipun tipis dan ringkas, namun buku ini mempunyai nilai yang sangat penting. Ketika buku ini ditulis, historiografi Islam Indonesia masih didominasi oleh karya para orientalis kolonialis yang memandang Islam secara negatif berdasarkan worldview Barat.
            Sebut saja misalnya Snouck Hurgronje. Dalam bukunya Nederland en de Islam (hlm. 1), Snouck mengatakan bahwa Islam baru masuk ke kepulauan Indonesia pada abad ke-13 M setelah mencapai evolusinya yang lengkap. Islam datang dari Gujarat India, bukan dari Mekah Arab. Snouck juga menyatakan dalam bukunya Arabie en Oost Indie (hlm. 22) bahwa orang Islam di Indonesia sebenarnya hanya tampaknya saja memeluk Islam dan hanya di permukaan kehidupan mereka ditutupi agama ini. Ibarat berselimutkan kain dengan lubang-lubang besar, tampak keaslian sebenarnya, yang bukan Islam.
Berdasarkan teorinya itu, Snouck ingin membangun opini bahwa Islam yang datang ke Indonesia bukanlah Islam yang murni, seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw., tetapi Islam yang telah tercampur baur dengan ajaran-ajaran agama lainnya alias sinkretik. Itu pun datangnya juga telat. Oleh karena sejak kedatangannya sudah sinkretik, maka Islam tidak mengakar di jiwa orang-orang Indonesia. Islam tidak memberi pengaruh yang berarti. Pemberi pengaruh yang dominan tetaplah agama-agama pra-Islam, seperti Hindu, Budha, animisme, dan dinamisme. Begitu kurang lebih jika kita cermati teori tersebut.

Woensdag 20 Maart 2013

Nikah Mut’ah dalam Prespektif islam

Oleh: Ust. Jusman Assinjai
Mahasiswa Jurusan Syariah Universitas Ibn Khaldun Indonesia 

 A.      Pengertian Nikah Mut’ah
    Secara etimologi, Mut’ah bersal dari kata tamatta’a, yatamatta’u tamattu’an yang artinya mengambil manfaat dari sesuatu[1]. Adapun Nikah Mut’ah secara etimologi berkumpul atau bercampur, sedangkan menurut syari’at secara hakekat adalah akad (nikah) dan secara majaz adalah al-wath’u (hubungan seksual) menurut pendapat yang shahih[2], karena tidak diketahui sesuatupun tentang penyebutan kata nikah dalam kitab Allah -Subhanahu wa ta’ala- kecuali untuk makna at-Tazwiij (perkawinan)[3].  
      Menurut istilah, Nikah Mut’ah adalah seseorang laki-laki menikahi seorang wanita dengan sesuatu dari harta untuk jangka waktu tertentu, pernikahan ini berakhir dengan berakhirnya waktu tersebut tanpa adanya perceraian, juga tidak ada kewajiban nafkah dan tempat tinggal serta tidak ada waris-mewarisi diantara keduanya apabila salah satunya meninggal sebelum berakhirnya masa pernikahan[4]. Pernikahan ini juga tidak mensyaratkan adanya saksi, tidak disyaratkan adanya ijin dari bapak atau wali, dan status wanitanya sama dengan wanita sewaan atau budak[5].

Dinsdag 19 Maart 2013

Lesbian Dan Pengaruhnya Terhadap Ibadah dan Muamalah

Oleh : Dr. Ahmad Alim, Lc,M.A 
Ketua Progam Kader Ulama PPMS Ulil Albaab UIKA Bogor

Akhir-akhir ini masalah lesbian telah menarik perhatian masyarakat luas, baik dari  kalangan media,akademisi, pengamat politik, bahkan menjadi topik hangat dalam kampanye Obama, Sehingga dapat dikatakan bahwa bahasan ini  telah menjadi semacam topic of the day yang tercermin dalam  diskusi atau seminar forum-forum akademik intelektual, orasi ilmiyah, bahkan merambah sampai ke hotel, kantor-kantor, atau tempat-tempat yang pada awalnya asing dengan  segala hal yang berbau topik ini.
Oleh karena itu penting kiranya, kita membahas topik ini dalam persepektif hukum Islam dan ijtihad para ulama.
A.    Definisi Lesbian
Istilah  lesbian dalam  Lisaanul ‘Arab  disebut   اَلسَّحْقُ  yang artinya ialah lembut dan yang halus, kemudian  kata ini berkembang darinya  istilah   مُسَاحَقَةُ النِّسَاءِ  yang berarti hubungan badan yang dilakukan oleh dua orang wanita sebagaimana yang dilakukan oleh kaum luth(gay).[1] Sebagian ulama seperti Imam Alusy menyamakan antara sihaq(lesbi) dengan perilaku kaum luth (gay), karena illah (alasan) perbuatannya sama, yaitu penyimpangan seksual yang dilaknat oleh agama.[2]

Tidak Berasap

Mungkin judul di atas akan lebih mudah dipahami dan menjadi familiar jika terlebih dahulu di bahasa Inggris-kan kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Indonesia. 

Ya, sahabat, kita sedang membahas tentang kebijakan yang juga telah diberlakukan di kampus kita tercinta, Universitas Ibn Khaldun. Kebijakan untuk tidak merokok!

Di Antara Mitos-Mitos Dusta
Merokok membantu berfikir, padahal kenyataannya merokok bisa menceraiberaikan pikiran, mengurangi konsentrasi berfikir karena rokok menyebabkan penyempitan nafas dan keringnya tenggorokan.

Merokok memperbanyak teman dengan saling menawarkan rokok dan berbasa-basi di dalamnya. Ternyata inipun keliru, sebab pada kenyataannya teman-teman yang dimaksud adalah teman-teman yang memiliki kebiasaan buruk.

Sondag 17 Maart 2013

Sanksi Bagi Koruptor

Islam, sebagai agama wahyu, mengemban amanah menjaga kemaslahatan manusia dan sekaligus sebagai rahmat seluruh alam (rahmatan lil alamin) yang relevan pada setiap zaman dan tempat (shalih li kulli zaman wa makan). Dalam rangka mewujudkan hal itu, Islam menetapkan aturan hukum (syari'ah).
Aturan ini dibuat dengan tujuan utama mewujudkan dan memelihara lima sasaran pokok yang populer dengan istilah al-maqashid al-syar'iyyah, yaitu: memelihara agama (hifdz al-din), memelihara jiwa (hifdz al-nafs), memelihara akal (hifdz al-aql), memelihara kehormatan atau keturunan (hifdz al-nasl), dan memelihara harta (hifdz al-mal).
Kelima maqashid syar'iyyah tersebut, jika terlaksana dengan baik, maka akan tercapai kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat (fii al-dunya hasanah, wa fii al-akhirah hasanah). Sebaliknya, segala tindakan yang mengancam keselamatan salah satu dari kelima hal pokok tersebut, Islam menganggapnya sebagai tindak kejahatan (jarimah) yang terlarang. Karena itu, pelakunya dikenakan hukuman atau sanksi baik yang bersifat

Raih Keberkahan Shaum Arafah



Pembaca yang budiman, kita sedang berada di hari-hari yang mulia dalam setahun. Hari ketika amal shaleh pada saat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah Ta’ala. Hari tersebut adalah sepuluh hari Pertama bulan Dzulhijjah, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dalam sebuah haditsnya:
“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari Pertama bulan Dzul Hijjah). ” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun. ”
Salah satu amal ibadah yang dianjurkan untuk meraih keberkahan waktu yang mulia tersebut adalah berpuasa. Imam Abu Daud meriwayatkan sebuah hadits dalam sunannya, “Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya. ”

Belajar Dari Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam


Setiap memasuki bulan Dzulhijjah, memori kita kembali membuka dirinya. Mengajak kita mengenang kembali seorang manusia agung yang menorehkan fakta sejarah peradaban umat manusia dan membentuk arah kehidupan kita. Dialah Ibrahim ‘alaihissalam, salah seorang Rasul Ulul Azmi.
Di antara keutamaan yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah bahwa beliau seorang Nabi yang disebut Allah sebagai “ummat”. Allah Ta'ala berfirman: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ummat (imam) yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan senantiasa berpegang kepada kebenaran. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS. al-Nahl: 120)
Allah juga menyebut Ibrahim sebagai qudwah, teladan. Dalam al Qur'an, hanya ada dua sosok yang disebutkan secara tegas sebagai teladan, yaitu Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam (QS al Ahzab: 21) dan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam (QS Al Mumtahanah: 4).
Mendalami hikmah dua keutamaan tersebut, kehidupan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjadi sangat penting diperhatikan. Tulisan ini akan menguraikan empat hal yang hendaknya diteladani dari kehidupan Nabi Ibrahim.
Pertama, Ketundukan secara Total kepada Ketentuan Allah.

Saterdag 16 Maart 2013

IMPLEMENTASI EKONOMI SYARI’AH MENUJU ISLAM KAFFAH


Oleh : Drs. Agustianto, MA

Ekonomi Islam adalah bagian penting dari ajaran Islam yang bersumber Al-Quran dan hadits. Ijtihad para ulama tentang ekonomi Islam dan muamalah maliyah juga sangat melimpah. Sebagai konsekuensinya, kita harus mengamalkan ajaran ekonomi Islam tersebut agar keIslaman kita menjadi kaffah, tidak sepotong-potong. Allah SWT secara tegas memerintahkan agar kita memasuki Islam secara kaffah ( menyeluruh ). “ Hai orang – orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam kaffah, dan jangan kamu ikuti langkah – langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”. ( QQ. 2 : 208 ). Dalam ayat lain Allah berfirman , “Apakah kamu beriman kepada sebagian kitab dan kafir kepada sebagian yang lain”.( QS 2 :85 ). Kedua ayat di atas mewajibkan kaum muslimin supaya masuk ke dalam Islam secara utuh dan menyeluruh.

Dinsdag 12 Maart 2013

KAYA HATi



ليس الغنى عن كثرة العرض، ولكن الغنى غنى النفس

Tidaklah kaya itu sebab banyaknya harta,Akan tetapi, kaya sesungguhnya adalah kaya hatinya.
(HR. Bukhori Muslim )

Orang kaya harta sangatlah banyak dibelahan bumi ini, tetapi sangat sedikit orang yang kaya hatinya, padahal itu adalah kaya yang hakiki dan asas ketenangan hidup.
Sebagian orang memandang bahwa harta kekayaan adalah jaminan kebahagiaan hidup, jaminan masa depan. Itu adalah cara pandang yang salah; karena banyak sekali orang yang setres justru karena hartanya.

Imam Ibnu Rajab mengatakan :

ولاتحسبن الفقر من فقد الغنى
ولكن فقد الدين من أعظم الفقر


Jangan anda mengira bahwa kefakiran adalah hilangnya kekayaan, akan tetapi hilangnya agama adalah sebesar-besarnya kefakiran.

Rasulullah SAW mengukur kekayaan seseorang bukan ditentukan pada hartanya, akan tetapi ditentukan oleh hatinya. Bermobil mewah akan tetapi dari hasil menipu orang lain, atau mendzalimi teman sendiri, hakikatnya ia adalah miskin. Rumah berlantai sembilan dengan fasilitas lengkap dan serba lux, akan tetapi dari hasil korupsi itu juga disebut orang miskin. Berduit banyak milyaran rupiah bahkan triliyunan, akan tetapi dari hasil membobol bank itu juga miskin. Bukanlah harta yang menjadikan mereka kaya akan tetapi mental benalulah yang menjadikan mereka miskin.
Lebih baik tinggal di rumah gubuk beratapkan daun rumbia, yang dihiasi lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dengan hati yang qona'ah, itu lebih baik dari pada kaya yang tidak sewajarnya, Karena hati yang qona'ah selalu tersenyum walaupun dalam posisi yang terjepit, gubuk yang sempit tidak mampu menjadikannya sesak nafas, karena dadanya lapang dari kesempitan.
Betapa banyak orang yang berumah luas dilengkapi taman yang indah, akan tetapi mereka tetap merasa sempit oleh karena hatinya yang sempit, bahkan ada diantara mereka tidak bisa tidur walaupun berada di atas kasur yang empuk.

SESUAP RIZKI YANG BERKAH


ا للهم اجعل رزق آل محمد قوتا

Ya Allah berilah rizki kelurga Muhammad sesuap saja. ( HR.Bukhari Muslim )

Mengapa permintaan Rasulullah hanya sesuap rizki saja? Padahal seandainya beliau meminta rizki sebesar gunung emas, pasti Allah mengabulkannya, dan secara Kun Fayakun beliau langsung menjadi orang terkaya didunia. Hanya ada satu jawabanya, yaitu Beliau tidak ingin harta dunia ini mengganggu ibadahnya dan menjauhkanya dari mengingat Allah.
Disisi lain beliau adalah pemimpin dunia, Mekah dan Madinah berada dibawah kekuasaannya, kekayaan terbentang luas dihadapanya, namun sedikitpun beliau tidak tergoda dengan gemerlapnya duniawi.
Beliau bukanlah manusia yang tamak harta ataupun tahta, akan tetapi Beliau adalah sosok teladan sederhana yang jauh dari kemewahan dan berlebih-lebihan. Kezuhudan beliau dalam urusan duniawi patut dicontoh bagi seluruh umat manusia

Profil Ponpes Ulil Albaab



Pada 15 Juli 1987, lima tokoh ulama dan intelektual mendirikan pondok Pesantren Ulil Albaab Bogor. Mereka adalah Dr. Muhammad Natsir (Perdana  Mentri Pertam Indonesia), K.H. Soleh Iskandar (Pendiri Universitas Ibn Khaldun), K.H. TB. Hasan Bashri (Ketua MUI) Prof. AM. Saefuddin (Mantan Mentri Pertanian), dan Prof. Dr. K.H. Didin Hafidhuddin (Ketua BAZNAS). Mereka mengkonsepkan integrasi 3 pilar kebangkitan untuk melahirkan ulama yang intelektual dan intelektual yang ulama yaitu kampus, pesantren, dan mesjid.
Terletak di Jl. KH. Soleh Iskandar, KM. 2 Kedung Badak Bogor, Pondok Pesantren Ulil Albaab masih berada dalam satu kawasan dengan Universitas Ibn Khaldun Bogor dan Mesjid Al-Hijri 2. Di sanalah, para kader ulama dan intelektual dibekali dengan berbagai ilmu dan pengetahuan.
Selaras dengan visi pesantren Ulil Albaab, yaitu melahirkan ulama yang intelektual dan intelektual yang ulama, maka dibuatlah empat program bagi para santri. Empat program tersebut terdiri dari budaya ilmu, budaya adab, budaya dakwah, dan budaya mandiri.
Ada banyak kegitan bagi santri dalam program budaya ilmu  di antaranya ialah kajian kitab kuning (klasik), kajian kitab putih (kontemporer), perkuliahan intensif, studi banding ilmuiah, kajian Timur Tengah, workshop pemikiran Islam, seminar peradaban (baik nasional maupun internasional), diskusi ilmiah, jurnalistik, silaturahim tarbawi, English Club, Arabic Club, bimbingan belajar intensif.